Dakwah Millenial Ardhi Mohamad - Kuresensi.xyz

January 19, 2023

Dakwah Millenial Ardhi Mohamad

 



Resensi Buku What’s So Wrong About Your Self Healing – Ardhi Mohamad

 

Selesai dengan buku pertama dari Ardhi Mohamad yaitu What’s So Wrong About Your Life, saya punya kesan yang baik dengan bagaimana Ardhi memaparkan masalah yang ia kemukakan. Bahasa penulisan yang digunakan Ardhi mirip dengan bagaimana penulis Alvi Syahrin memaparkan bahasan dalam bukunya, tetapi memiliki sisi menarik lain yang lebih mendalam. Pengalaman itu, membuat saya bergegas beralih ke buku kedua Ardhi Mohamad berjudul What’s So Wrong About Your Self Healing.


Dua buku yang ditulis oleh Ardhi Mohamad samasama masih berada pada tema self improvement. Keduanya membahas permasalahan yang mungkin dihadapi oleh setiap orang (dalam hal ini kaum millennial) ketika menjalani kehidupan. Buku keduanya diterbitkan oleh penerbit Alvi Ardhi Publishing – yang mana tanpa dicari tahu pun, mungkin para pembaca sudah bisa menebak bahwa penerbit ini bisa jadi adalah penerbit yang dibuat oleh Ardhi bersama penulis yang sudah lebih dahulu terkenal namanya, Alvi. Mungkin keduanya teman sejak lama yang dulunya hobi mereka samasama menulis, kemudian ternyata keduanya berhasil menerbitkan masing-masing best seller booknya sendiri sehingga memperbesar kemungkinan kerjasama membentuk lembaga penerbitan milik mereka sendiri.


Eitzz…


Setelah dicari tahu, ternyata Alvi dan Ardhi ini saudara sepupu (maap saya baru tahu). Jadi, saya telah membuat prediksi yang salah. Tetapi tidak apa-apa. Part di atas tidak akan saya hapus sebagai bentuk mengakui bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Dan, Alvi Ardhi Publishing adalah jalur self publishing yang didirikan oleh mereka berdua. Barangkali hal ini memperkuat, mengapa gaya penulisan Alvi dan Ardhi ini cenderung begitu mirip.


Baca juga: Unsur-Unsur di dalam Resensi Buku


Tanpa Kata Pengantar


Telah menjadi pengetahuan umum bahwa suatu karya buku pasti memuat kata pengantar untuk menjelaskan latar belakang buku atau hal lain yang ingin disampaikan pengarang dalam mengantarkan buku yang ditulisnya. Anehnya atau mungkin bisa juga disebut uniknya, buku ini tanpa kata pengantar bro. Tidak mungkin kan, seorang penulis buku, menyelesaikan bukunya berlembar-lembar tetapi dia tidak bisa menuliskan kata pengantar. Alasan logisnya pasti bukan karena beliau tidak bisa menuliskannya. Tetapi bisa jadi tidak ingin menulisnya.


Ardhi hanya menulis basmallah, pujian kepada Allah, dan satu kalimat lagi sebagai pembuka buku ini. Begini katanya, Nggak usah pakai kata pengantar segala, ya, paling juga pada males bacanya. Kupikir Ardhi hanya ingin memberikan citra yang unik dalam buku ini sehingga entah bagaimanapun dia membuka buku, dia tidak menuliskan kata pengantar dengan seperti biasanya. Begitulah karya kontemporer, semakin kontemporer suatu karya semakin bias patokannya.


Selanjutnya sebelum daftar isi, Ardhi juga menyelipkan kalimat berbahasa inggris, Self healing is a long journey. The harder it is, the stronger your heart will be.


Bagaimanapun buku keduanya ini diterbitkan dengan metode self publishing sehingga tidak adanya kata pengantar tidak akan menjadi masalah. Entah pada akhirnya menjadi ciri unik dan membongkar kebiasaan lama atau malah akan memperburuk citra karya, itu semua bisa dinilai oleh masing-masing penikmat bacaannya. Pada intinya, saya melihat ini sebagai bentuk terobosan baru dan unik. Bagi kaum millennial, justru bisa menjadi penambah rasa penasaran untuk membaca buku itu.


Baca juga: Meneladani Kisah Nabi dan Rasul


Ardhi dan Dakwah Millenial


Banyak buku self improvement yang beredar di pasaran tentunya. Tetapi, buku yang ditulis oleh Ardhi ini bergaya indie namun tetap lugas. Seperti gaya orang sedang curhat. Ketika pembaca memiliki permasalahan seperti yang diceritakan oleh Ardhi, maka pembaca akan dapat merasakan perasaan “aku banget” dalam cerita-cerita yang disuguhkan oleh Ardhi.


Ardhi dalam buku What’s So Wrong About Your Self Healing membahas berbagai hal ketika merasa gagal dalam berbagai situasi. Kegagalan di dalam keluarga, tak punya semangat hidup, teman yang tidak bisa mengerti, merasa tidak berguna, butuh perhatian orang lain, merasa sedih tak berkesudahan, dan seterusnya. Ardhi ceritakan semuanya seperti selayaknya dua orang sahabat saling curhat, menggebu-gebu dan begitu serius.


Yang membuat menarik bagi saya adalah solusi yang diberikan Ardhi dari permasalahan yang dia ceritakan begitu luar biasa ketika ia hubungkan dengan nuansa keagamaan. Landasan-landasan Islami yang ia selipkan sebagai penguat dari solusi yang diberikan. Keren banget. Ini bukan sekedar buku self improvement. Tetapi, saya memandang Ardhi tengah berusaha menyampaikan kebenaran dengan cara millennial.


Orang-orang quarter life sangat saya sarankan membaca buku ini. Karena permasalahan yang dikemukakan kebanyakan berkisar antara masa-masa tersebut. Solusi yang diberikan olehnya saya pikir sangat relevan dan bisa dipraktikkan.

No comments:

Post a Comment