Resensi Buku The Psychology of Money - Kuresensi.xyz

Bikin Hosting di Sini

Email Hosting

November 17, 2022

Resensi Buku The Psychology of Money



The Psychology of Money - Morgan Housel

(Resensi Oleh Firman Hardianto)

 

Pada kesempatan ini kuresensi menyajikan resensi mengenai buku keuangan terbaik dan paling orisinil menurut Jason Zweig dari The Wallstreet Journal. Hal yang menarik bagi kuresensi untuk membuat resensinya adalah buku ini menjadi salah satu buku international bestseller yang telah diterjemahkan ke dalam 26 bahasa. Termasuk di antaranya bahasa Indonesia. Buku ini berkisah mengenai pembelajaran tentang harta dan kekayaan, ketamakan dalam mengelola harta, dan kebahagiaan. Buku tersebut adalah The Psychology of Money yang ditulis oleh Morgan Housel.


Kalau berbicara mengenai uang tentu akan sangat menarik dan hampir semua orang merasa membutuhkan uang. Sudah menjadi kebutuhan umum dan hampir semua aktivitas sehari-hari selalu berhubungan dengan uang. Hakikat manusia adalah bekerja, dan saat ini semua aktivitas pekerjaan selalu disangkut pautkan dengan uang. Meski seharusnya tidak semua pekerjaan disangkut pautkan dengan uang.


Baca juga: Mengapa Penting Memanajemen Waktu?


Sebuah Pengalaman

Morgan Housel memulai buku ini dengan pengalamannya bekerja part time sebagai seorang valet di salah satu hotel kota Los Angeles saat menempuh masa kuliahnya. Morgan mendapati seorang tamu langganan yang begitu genius. Karena kegeniusannya, tamu itu merupakan salah satu perancang dan mematenkan komponen penting router WiFi ketika berumur 20 tahun. Tetapi sikapnya terhadap keuangan sangat tidak patut dicontoh. Dia begitu angkuh dan mempertunjukan gaya hidup yang arogan sehingga tidak lama setelahnya mengalami kebangkrutan.


Salah satu contoh arogannya dalam hal keuangan seperti meminta koleganya untuk membeli koin emas sebanyak 1000 dollar. Kemudian koin itu dilempar-lemparnya ke laut, dan dia melakukan itu hanya untuk kesenangan. Suatu ketika, ia pernah memecahkan lampu seharga 500 dollar. Dan dengan arogannya, dia memarahi manajer dan memberi ganti rugi sebanyak 5000 dollar.


Dalam kisah tersebut, Morgan melalui buku The Psychology of Money hendak mengutarakan bahwa mengelola uang dengan baik tidak ada hubungannya dengan kecerdasan. Tetapi lebih banyak berhubungan dengan perilaku. Morgan menggarisbawahi tentang perilaku, dimana perilaku sukar diajarkan bahkan kepada orang genius sekalipun.


Ronald Read VS Richard Fuscone

Kemudian Morgan mengisahkan dua hal yang saling berlawanan. Seorang biasa saja yang terus bekerja, hidup bersahaja, dan tiba-tiba menjadi seorang filantropis dengan seorang ahli bisnis yang bangkrut karena perilakunya. Pertama, Ronald James Read – seorang biasa saja yang bekerja sebagai petugas kebersihan dan penjaga pom bensin asal Amerika. Mendengar pekerjaannya, tentu anda juga akan berpikir bahwa Read adalah orang yang biasa saja dan sulit melakukan hal besar.


Baca juga: Mau Lanjut S2? Simak 4 Universitas Yang Buka Pendaftaran Semester Genap


Ronald Read bekerja memperbaiki mobil di pom bensin selama 25 tahun dan menyapu lantai JCPenney selama 17 tahun. Dia membeli dua kamar seharga 12000 dollar dan dia tinggal di sana hingga meninggal. Dia tinggal di sana bersama istrinya. Ronald Read tak pernah masuk berita internasional, sampai sepeninggalnya barulah Read masuk berita internasional. Tahun 2014, hampir 3 juta orang Amerika meninggal dan tak sampai empat ribu orang yang memiliki harta di atas 8 juta dollar ketika meninggal. Ronald Read adalah salah satunya. Ronald Read mewariskan harta 2 juta dollar kepada anak tirinya dan 6 juta dollar lebih kepada rumah sakit dan perpustakaan setempat. Tentu orang yang mengenal Read merasa kaget mengingat hidupnya yang begitu sederhana. Tidak ada rahasia lain, selain dirinya selalu menabung puluhan tahun.


Sedangkan, Richard Fuscone memiliki kehidupan yang berbeda dari Ronald Read. Fuscone menjadi salah satu ahli bisnis terkemuka. Bahkan majalah bisnis Crain’s pernah memasukkannya dalam salah satu daftar pebisnis sukses “40 di bawah 40”. Kemudian segalanya ambyar, seketika Fuscone pada pertengahan 2000-an meminjam banyak uang untuk memperluas rumahnya di Greenwich. Rumah yang biaya pemeliharaan bulanannya sangat besar. Kemudian krisis 2008 menghancurkan segalanya. Aset Fuscone habis dan mengalami kebangkrutan.


Dari dua kisah ini, Morgan hendak menjelaskan bahwa pendidikan dan pengalaman tidak serta merta menjadi penyebab suksesnya kehidupan seseorang ditinjau dari segi ekonomi. Meski begitu, hal ini adalah kejadian satu banding seribu yang akan sangat sulit terjadi di kehidupan orang lain. Morgan ingin menyampaikan pesan bahwa kehidupan seseorang selalu diliputi keberuntungan dan resiko. Sesekali kita memperoleh keberuntungan dan kadang pula mendapatkan resiko.

 


Daftar Pustaka

The Psychology of Money/Morgan Housel; Penerjemah: Zia Anshor, Penyunting: Dien Cahaya, - Tangerang Selatan: PT Bentara Aksara Cahaya; 2021

https://www.gramedia.com/best-seller/resensi-buku-the-psychology-of-money-by-morgan-housel/

No comments:

Post a Comment