Mengapa Penting Memanajemen Waktu? - Kuresensi.xyz

Bikin Hosting di Sini

Email Hosting

November 13, 2022

Mengapa Penting Memanajemen Waktu?

 


Al-Waqtu fi Hayati al-Muslim – Dr. Yusuf Al-Qardhawi

(Resensi oleh Firman Hardianto)


Sebagian besar orang pernah (atau bahkan sering) mengeluhkan terkait tidak terselesaikannya tugas dan pekerjaan. Diundur dan terus diundur hingga tidak sempat mengerjakannya. Bahkan, hingga memunculkan pendapat bahwa 24 jam dalam sehari tidak cukup untuk menjalani kesehariannya. Ketika datang waktu Dhuhur ada yang mengatakan, sungguh cepat sekali tiba-tiba sudah masuk waktu Dzuhur. Begitupun ketika Ashar dan berbagai waktu lainnya.


Di sisi lain, ada golongan orang yang dengan baik menggunakan waktunya. Dalam 24 jam setiap hari, mereka melakukan pekerjaan bermanfaat, produktif dalam hal-hal yang positif, membantu meringankan beban orang lain, dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Tentulah semua orang ingin terhindar dari golongan yang pertama. Kita semua berharap dapat menjadi golongan yang kedua – yang dapat memanfaatkan waktu sebagaimana mestinya dan tidak menunda-nunda pekerjaan sampai hari esok datang.


Prof. Dr. Yusuf al-Qardhawi, seorang ulama Muslim asal Mesir menulis buku yang menerangkan pentingnya memanajemen waktu bagi umat Islam. Buku itu berjudul Al-Waqtu fi Hayati al-Muslim dan diterbitkan dalam versi berbahasa Indonesia oleh Ziyad Visi Media dengan judul Manajemen Waktu Seorang Muslim. Yusuf Qardhawi menggarisbawahi bahwa setiap insan beriman wajib memanajemen waktu yang dimilikinya.


Baca juga: Ulasan Film Horor Qodrat Menurut Perspektif Islam


Prinsip Memanajemen Waktu

Memanajemen waktu bukan berarti saklek untuk selalu bekerja sepanjang hari atau beribadah sepanjang hari. Secara etimologis, manajemen diartikan sebagai seni untuk melaksanakan dan mengatur. Berarti manajemen waktu artinya seni mengatur waktu agar dapat menjalankannya secara efektif dan efisien. Banyak orang yang lalai terhadap manajemen waktu sehingga waktunya terbuang sia-sia. Fenomena ini bahkan dijelaskan dalam hadist Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas,


“Dua buah nikmat dari beberapa nikmat Allah yang kebanyakan orang tertipu/lalai olehnya adalah nikmat sehat dan nikmat waktu luang.” (HR Bukhari)


Yusuf Qardhawi mengibaratkan manajemen waktu kehidupan manusia seperti perkara jual beli dan perdagangan. Jika manusia diibaratkan sebagai pedagang, maka modalnya adalah waktu luang dan kesehatan. Dari dua modal itu, manusia dapat meraih keuntungan dan membangun kesuksesan. Namun, setiap orang harus berhati-hati dalam menggunakan waktunya. Dalam hadist lain disebutkan, “Jagalah lima sebelum datangnya lima: [1] waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] hidupmu sebelum datang matimu.


Bahaya Terlalu Banyak Waktu Luang

Dalam hadist tersebut disebutkan salah satunya untuk menjaga waktu luang yang dimiliki. Sebagian orang shalih berpendapat bahwa waktu luang adalah nikmat yang paling besar. Jika waktu luang ini tidak dimanfaatkan dengan baik dan tidak disyukuri maka dapat membuka pintu hawa nafsu serta terseret dalam belenggu syahwat. Ketika itu terjadi, maka nikmat yang dirasakan dapat menjadi kacau, serta kesucian dan kebersihan hati menjadi hilang.


Para salafus shalih sangat membenci orang yang memiliki waktu luang tetapi tidak digunakan untuk dua hal, yaitu untuk kemaslahatan agama dan kemaslahatan dunia. Nikmat waktu luang bisa saja menjadi azab bagi orang yang tidak memanfaatkan waktunya dengan baik – entah itu laki-laki ataupun perempuan. Sebagai contoh, mungkin inilah yang terjadi pada istri al-Aziz yaitu Zulaikha yang tergila-gila pada Nabi Yusuf sehingga berusaha memperdaya Nabi Yusuf untuk berbuat tidak senonoh kepadanya. Waktu luang bagi laki-laki akan menyebabkan lalai, sedangkan bagi perempuan akan memperbesar nafsu.


Baca juga: Sepak Bola Dan Ambisi Proyek Gila


Bahaya yang besar juga terdapat ketika memiliki banyak waktu luang pada saat masa muda. Ketika waktu luang dimiliki dan didukung dengan kemakmuran yang meliputinya. Abu ‘Atahiyah mengungkapkan bahaya itu dalam syairnya,


Sesungguhnya pada diri pemuda ada waktu luang dan kemakmuran,

Itulah sumber segala kerusakan bagi seseorang.


Karenanya manajemen waktu adalah sesuatu yang sangat perlu dilakukan. Manusia tetap boleh beristirahat dan bersantai dalam kadarnya dan tidak berlebih-lebihan. Tak jarang manusia mengalami bosan jika selalu bersikap serius dan jenuh hati sebagaimana tubuh mengalaminya, maka bercanda dan berhibur tetap dibolehkan oleh syariat. Sayyidina Ali pernah berkata, “Hiburlah hati kalian barang sebentar karena jika dipaksa maka ia akan buta”.


Selama dalam kadar yang tidak berlebih-lebihan maka berhibur diperbolehkan. Ahli ma’rifat mengatakan bahwa seorang hamba mengalami empat waktu dan tentunya harus menyikapi dengan empat sikap yang tepat. Empat waktu itu di antaranya kenikmatan, musibah, ketaatan, dan kemaksiatan. Ketika mengalami kenikmatan maka sikap yang tepat adalah bersyukur. Ketika mendapati musibah maka harus ridha dan sabar. Apabila berbuat kemaksiatan, alangkah baiknya agar bertaubat dan istighfar. Dan jika mengalami ketaatan maka harus disadari bahwa nikmat ketaatan itu semata-mata datang karena hidayah dan taufik Allah SWT.


 

Daftar Pustaka:

Manajemen Waktu Seorang Muslim/Yusuf al-Qardhawi; Penerjemah: Muhsin Suny M., editor: Budiman Mustofa, Lc., Nurul Anwari al-Izzah, - Solo: Ziyad Visi Media; 2007

https://rumaysho.com/5022-manfaatkanlah-5-perkara-sebelum-menyesal.html

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Yusuf_al-Qaradawi

No comments:

Post a Comment