Tasawuf Modern dan Pokok-Pokok Kebahagiaan - Kuresensi.xyz

Bikin Hosting di Sini

Email Hosting

October 27, 2022

Tasawuf Modern dan Pokok-Pokok Kebahagiaan



Tasawuf Modern - Prof. Dr. Hamka

(Resensi oleh Firman Hardianto)

 

Semua orang ingin memperoleh kebahagiaan. Entah mereka yang mempercayai adanya kehidupan setelah mati ataupun mereka yang tidak mempercayainya sama sekali. Meski demikian, mereka yang tidak mempercayai kehidupan setelah mati tentu tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang sejati. Karena pandangan mereka terbatasi oleh kesombongan daya pikirnya tanpa dibarengi dengan keimanan kepada Sebab dari segala sebab yang mengawali kehidupan (baca: Allah SWT).

 

Buya Hamka, seorang ulama nusantara yang namanya begitu masyhur, 83 tahun yang lalu telah menyusun sebuah buku yang mana menerangkan berbagai hal tentang bahagia. Artikel-artikel yang disatukan dalam buku tersebut awalnya adalah karya yang beliau tulis dalam majalah Pedoman Masyarakat dengan rubrik bertajuk “Tasawuf Modern”. Rubrik tersebut kemudian dibukukan sebagai jawaban dari keinginan dan permintaan pembaca dengan judul yang sama yaitu “Tasawuf Modern”.

 

Pemberiaan nama itu bukan tanpa alasan. Buya Hamka memberikan banyak gambaran nama tasawuf sebagai kata yang menggambarkan karya yang beliau susun. Beliau menggambarkan bahwa manusia sering tidak sadar dengan kebahagiaan yang melekat pada diri masing-masing. Banyak yang mengorbankan waktu, tenaga, keluarga, bahkan nyawa sekalipun, tetapi banyak juga yang tak mendapatkan apa yang dicarikannya. Beliau menerangkan, padahal kebahagiaan itu dekat dan letaknya ada di dalam diri sendiri setiap manusia. Kita adalah penentu kebahagiaan yang kita inginkan. Kemudian makna implisit dari penamaan tasawuf adalah sesuai dengan keinginan Buya Hamka yang sejalan dengan makna tasawuf yang asli yaitu: “Keluar dari budi pekerti yang tercela dan masuk kepada budi pekerti yang terpuji.” Tujuan mulia Buya Hamka dalam buku ini adalah untuk memotivasi pembaca untuk membersihkan jiwa, mendidik, dan mempertinggi derajat budi, menekankan segala kelobaan dan kerakusan memerangi syahwat yang lebih dari keperluan untuk kesejahteraan pribadi.


Baca juga: Bell Cranel; From Zero to Hero 


Kisah “Tasawuf Modern”

Buya Hamka banyak menerima sambutan baik atas diterbitkannya buku “Tasawuf Modern”. Salah satunya seorang dokter sahabat beliau, pernah memberikan nasihat kepada pasien selain melakukan perawatan medis juga diminta untuk membaca “Tasawuf Modern” guna menenteramkan jiwa sehingga dapat melekaskan kesembuhan pada pasien. Banyak pasangan suami-istri yang mengatakan bahwa mereka menjadikan “Tasawuf Modern” sebagai pedoman kehidupan rumah tangga agar mendapatkan ketenteraman dan kebahagiaan dalam menjalani bahtera kehidupan. Ada yang selalu membeli buku “Tasawuf Modern” manakala keluar cetakan terbaru, karena bukunya sering dipinjam oleh teman dan tidak dikembalikan lagi.

 

Bahkan “Tasawuf Modern” ini juga menjadi nasihat bagi penulisnya, Buya Hamka ketika beliau mendekam di penjara karena tuduhan yang tidak berdasar. Buya Hamka dipenjarakan dengan tuduhan sebagai pengkhianat dan menjual negara kepada Malaysia. Berhari-hari beliau diintrogasi dan dijejali dengan 1001 pertanyaan, memaksa Buya Hamka untuk mengaku kesalahan yang tidak ada pada dirinya.

 

Pada saat diterpa ujian itu, Buya Hamka merasakan begitu frustasi dan beliau berkeinginan untuk bunuh diri dengan sebilah pisau kecil di sakunya. Alhamdulillah, atas izin Allah SWT beliau dapat menghindari frustasi dan tidak memperturutkan keinginan buruk yang sempat muncul dalam benak beliau. Dalam bayangan beliau, tentu jika Buya Hamka mati bunuh diri apalah arti menyerukan orang lain untuk sabar, tabah, teguh hati bila dirinya sendiri tak dapat melakukannya ketika ditimpa satu cobaan Tuhan. Sehingga ketika selesai pemeriksaan yang kejam itu, beliau dipindahkan ke tempat lain, mintalah Buya Hamka kepada anaknya untuk membawakan buku “Tasawuf Modern”. Pernah temannya menjenguk ketika Buya Hamka sedang membaca “Tasawuf Modern”, kemudian temannya berkata, “eh, Pak Hamka sedang membaca karangan Pak Hamka”. Buya Hamka pun tidak menyangkal bahwa beliau pun memerlukan nasihat dari beliau sendiri dalam buku yang ditulisnya.


Baca juga: Apa itu Resensi?


Ada berbagai pokok kebahagiaan yang dijelaskan Buya Hamka dalam “Tasawuf Modern”. Meski bahasa dalam karya yang beliau tulis bernilai sastra, khalayak tetap dapat memahaminya dengan mudah. Buya Hamka menjelaskan berbagai pokok dengan lengkap dan komprehensif sehingga mencakup banyak aspek yang bisa menjadi landasan kebahagiaan pembaca dalam mengarungi kehidupan. Buku ini pun dapat dibaca oleh berbagai kalangan latar belakang yang telah melebihi usia 18 tahun. Pun, meski telah berusia 83 tahun sejak awal pertama dicetak, buku ini tetap relevan dalam menjelaskan pokok-pokok kebahagiaan yang perlu diketahui oleh pembaca. Karenanya, kami ucapkan selamat memahami pokok-pokok kebahagiaan yang telah disatukan dalam buku bertajuk “Tasawuf Modern” karya Buya Hamka. 

No comments:

Post a Comment