Alan Turing; Jenius Pemecah Enigma - Kuresensi.xyz

Bikin Hosting di Sini

Email Hosting

August 7, 2022

Alan Turing; Jenius Pemecah Enigma


 

The Imitation Game – Morten Tyldum

(Resensi oleh Firman Hardianto)


Kebimbangan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah dimanfaatkannya sebagai senjata perang. Seperti teori relativitas Einstein yang prinsipnya dikembangkan menjadi senjata mematikan bom atom. Bukannya menghasilkan kesejahteraan bagi manusia, ilmu justru disalahgunakan untuk menyebabkan bencana buatan akibat perang dan mengakibatkan banyak jiwa-jiwa mati karena senjata yang memborbardir.


Salah satu film yang mengisahkan tentang penemuan teknologi yang digunakan sebagai senjata perang adalah film The Imitation Game. Film bergenre science fiction yang pertama tayang pada Agustus 2014 ini mengisahkan seorang jenius Alan Turing yang begitu terobsesi dengan matematika dan mesin. Film ini mengangkat kisah asli dari seorang peneliti matematika dan komputer asal Inggris bernama Alan Turing. Alan Turing lahir dengan nama lengkap Alan Mathison Turing pada 23 Juni 1912 di Maide Vale, London, Inggris.


Baca juga: Itadori Yuji; Pahlawan atau Ancaman?


Tim Pemecah Enigma


Pada alur yang disuguhkan di awal film menceritakan Alan Turing dengan setting rumahnya didatangi Detektif Nock dari Kepolisian Manchester karena mendapat laporan bahwa rumah Alan habis kemalingan. Ketika Alan disapa oleh Detektif Nock, Alan mengatakan bahwa dia tak butuh polisi tetapi lebih membutuhkan tukang bersih-bersih karena rumahnya yang berantakan. Alan mengklaim bahwa tidak ada yang hilang di rumahnya, tak perlu polisi datang. Peristiwa itu membuat Nock curiga kepada Alan yang mungkin menyembunyikan sesuatu.


Selanjutnya setting berubah dengan backsound yang menampilkan berita akan terjadinya perang antara Inggris dan Jerman. Alan terlihat menaiki kereta kemudian menyusuri jalan menuju sebuah bangunan besar dengan sebuah pagar dan penjaga yang menjaganya. Bangunan itu adalah pabrik radio di Bletchley. Alan menemui Komandan Denniston – seorang angkatan laut Inggris. Ternyata Alan melamar pekerjaan untuk memecahkan kode enigma yang diciptakan Jerman sebagai kode rahasia untuk mengirim pesan strategi perang Jerman. Alan berbicara bahwa dia tak bisa bahasa Jerman, saat itu Komandan Denniston mengatakan bahwa itu adalah lelucon dan Alan hendak ditolak.


Namun, setelahnya Alan mengatakan Enigma dan membuat Komandan Denniston cukup tertarik dengan Alan karena mengetahui apa yang akan dia kerjakan dalam pekerjaan tersebut. Komandan Denniston mengatakan bahwa Enigma mustahil dipecahkan tetapi Alan sangat percaya diri dapat memecahkan kode yang mengantarkan kemenangan perang bagi Jerman itu.


Tak hanya Alan, ternyata Angkatan Laut Inggris juga mengundang beberapa orang jenius lain untuk memecahkan Enigma secara berkelompok. Alan sempat berpikir bahwa dirinya hanya akan bekerja sendiri, namun pihak Angkatan Laut Inggris mengatakan bahwa tidak menerima pekerjaan berkelompok artinya Alan menolak tawaran pekerjaan itu. Sehingga mau tak mau Alan akan bekerja secara berkelompok.


Enigma yang dipakai oleh tentara Nazi Jerman berubah setiap 24 jam di jam 00.00 tengah malam setiap harinya. Dan kemungkinan pengaturan kode yang dipakai oleh tentara Nazi jumlahnya ada 159 milyar milyun.  Kode itulah yang harus dipecahkan oleh kelompok pemecah kode dengan tenggat waktu 24 jam setiap harinya sebelum tengah malam karena kode akan selalu berubah.


Baca juga: Resensi Buku Dunia Shopie; Pesona Filsafat


Menyeleweng


Kelompok pemecah kode itu menggunakan teknik lama untuk memecahkan Enigma, tetapi tidak dengan Alan. Dalam kelompok itu, Alan selalu tampak menyendiri mengerjakan proyeknya untuk membuat mesin pemecah kode yang bekerja secara real-time untuk menandingi pengaturan kode Enigma yang selalu berubah setiap harinya. Alan mulai membuat desain mesin dan mengerjakan bagian-bagian mesin pemecah kode, tanpa memedulikan kinerja teman sekelompoknya.


Namun, Alan mendapatkan kendala karena biaya yang dibutuhkan untuk membuat mesin sangat besar hingga senilai 100 ribu poundsterling. Selain itu, ide Alan tidak disepakati oleh Hugh Alexander sebagai ketua kelompok. Alan mencoba mengatakan ide itu pada Komandan Denniston dan ditolak. Lantas, Alan mencoba menghubungi atasan Denniston, Winston Churchill. Alan benar-benar menghubungi Winston dengan menitipkan surat melalui Menzies.


Surat Alan diterima oleh Winston dan Alan langsung diangkat menjadi ketua kelompok. Kelompok pemecah kode akan berjalan berbeda dengan Alan sebagai ketuanya. Endingnya meski Alan berhasil dalam mesin yang diciptakan tetapi apa yang dilakukannya harus disembunyikan karena pekerjaan mereka benar-benar pekerjaan rahasia dan Alan berakhir dengan cukup mengenaskan karena ketahuan sebagai seorang gay. Hampir kurang lebih 50 tahunan pemerintah Inggris menyembunyikan asset Alan Turing.


Film ini sangat cocok ditonton oleh anda yang menyukai pemrograman atau mungkin bercita-cita menjadi seorang data saintis atau bahkan bagi anda yang menyukai matematika. Meski begitu ada nilai yang perlu diwaspadai dalam film ini dimana seorang Alan Turing merupakan gay. Sebagai proteksi, tentu anak-anak yang pemikirannya masih labil sebaiknya tidak menonton film ini. Tetapi bagi mereka yang telah memiliki dasar pemikiran dan landasan keagamaan yang baik tentu boleh menonton karena pesan moral yang dikandungnya baik, yaitu tetap fokus meraih apa yang dicita-citakan. Dalam hal ini Alan Turing tidak pernah berhenti dalam pekerjaan memecahkan kode Enigma sampai benar-benar terwujud.


Selain itu bantuan dari anggota kelompoknya di bagian tengah hingga akhir film membuatnya mampu bekerja secara lebih maksimal. Hal ini menekankan bahwa meski bekerja sendiri bisa, tetapi bekerja secara tim akan membuahkan hasil yang lebih powerfull.

No comments:

Post a Comment