Belajar Bersabar Dari Film Ranah 3 Warna - Kuresensi.xyz

July 1, 2022

Belajar Bersabar Dari Film Ranah 3 Warna

 


Ranah 3 Warna – Guntur Soeharjanto

(Resensi oleh Firman Hardianto)

 

Setelah sukses membuat buku Negeri 5 Menara terbit dalam jagad perfilman Indonesia, sang penulis Ahmad Fuadi kembali membawa serial lanjutan dari Negeri 5 Menara yakni Ranah 3 Warna menjadi sebuah film. Film yang diangkat dari novel karya Ahmad Fuadi itu telah ditayangkan perdana di bioskop mulai 30 Juni 2022. Ahmad Fuadi sendiri dalam postingan instagramnya @afuadi membagikan rating yang diperoleh film Ranah 3 Warna pada pengguna IMDb sejauh ini mendapatkan nilai 9.2/10.


Ahmad Fuadi menceritakan sebuah kisah mengharukan Alif Fikri, pemuda Maninjau yang telah lulus dari pesantren (cerita sebelumnya dalam Negeri 5 Menara) dan ingin melanjutkan studynya di Universitas Padjajaran. Pada awal film, penonton akan diperlihatkan ketika teman masa kecil Alif, Randai yang merendahkan Alif dan mempertanyakan apakah Alif bisa lulus menjadi mahasiswa Universitas Padjajaran. Alif dibayang-bayangi rasa kegagalan, meski hal tersebut hanya sebuah mimpi yang mendatangi Alif ketika tak sengaja tertidur setelah lelah belajar. Randai telah menjadi seorang mahasiswa Institut Teknologi Bandung dan tinggal di Bandung.


Baca juga : Akankah Senyummu Kembali Menyejukkan Senjaku?


Pelajaran Bahwa Hidup Harus Senantiasa Sabar Aktif


Film ini menggambarkan seorang pemuda yang mengejar mimpi dan cita-cita, sama seperti ribuan pemuda dalam kehidupan nyata. Dalam perjalanan menggapai cita-cita itu, tentu setiap pemuda akan mendapatkan cobaan dan ujian hidupnya masing-masing. Ranah 3 Warna mengajarkan kepada penonton bahwa proses tersebut perlu dilakukan dengan sabar. Alif Fikri selalu memegang prinsip kesabaran, Man Shabara Zhafira, barangsiapa bersabar ia akan beruntung.


Ada beberapa scene yang memberikan pelajaran berharga tentang kesabaran itu. Dimana kesabaran itu bukanlah suatu hal yang bersifat pasif, tetapi harus ada perlakuan aktif untuk bisa memperoleh keberuntungan. Contohnya scene ketika Alif akan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN). Alif belajar dengan giat agar bisa masuk dalam seleksi UMPTN itu. Ketika melihat pengumuman penerimaan seleksi UMPTN, Alif dan Ayahnya hampir-hampir menyerah karena tidak menemukan nama Alif Fikri dalam laporan pengumuman itu. Namun, keduanya dibuat terkejut ketika nama Alif Fikri tercantum dalam lembaran terakhir pengumuman. Kesabaran Alif yang aktif melalui proses giat belajar itu dapat membuat Alif lulus seleksi dan diterima sebagai mahasiswa Universitas Padjajaran.


Scene lain yang mengajarkan kesabaran, misalnya ketika Alif Fikri memiliki keinginan kuat untuk menulis. Senior Alif dalam UKM Jurnalistif, Bang Togar memiliki grade yang tinggi terhadap suatu tulisan. Alif yang ingin agar tulisannya dapat dimuat di majalah kampusnya itu terus saja menulis siang malam dan usahanya kembali membuahkan hasil. Meski berkali-kali Bang Togar mengerutkan kening dan mengatakan bahwa tulisan Alif tidak bermutu, tetapi usahanya yang tak berhenti membawa keberuntungan bagi terbitnya tulisan Alif.


Baca juga : Tate no Yuusha; Memenuhi Peran Sebagai pahlawan


Film ini telah lulus sensor dan dapat disaksikan oleh semua umur di berbagai bioskop. Tetapi, sang penulis Ahmad Fuadi menyarankan bagi usia SD ke bawah tentu akan lebih baik jika menonton sembari ditemani orang tuanya. Ketika menikmati film ini, penonton akan disuguhkan dengan kesadaran dari dalam diri sendiri bahwa hidup harus dijalani dengan sabar aktif. Sabar yang bukan hanya menunggu, tetapi aktif melakukan sesuatu agar kesabarannya membuahkan keberuntungan. Setiap penonton, terutama kaula muda dapat menyerap pembelajaran dari film Ranah 3 Warna ini bagaimana seharusnya mengangkat value yang harusnya tertanam dalam diri seorang pejuang cita-cita.


Tentunya masih banyak berbagai scene yang perlu disaksikan oleh para penonton di mana pun anda berada. Jangan lupa segera tonton Ranah 3 Warna dan berikan komentar anda tentang film Ranah 3 Warna ini. Tetapi, perlu diingatkan bahwa jangan pernah membandingkan film dengan buku. Karena sense menonton film dan membaca buku sama sekali berbeda. Keduanya sama-sama sebuah karya yang memerlukan apresiasi tinggi dari para penikmatnya. Selamat menonton.

No comments:

Post a Comment