Kisah Masa Lalu Dalam Catatan Sang Berandal - Kuresensi.xyz

Bikin Hosting di Sini

Email Hosting

October 17, 2021

Kisah Masa Lalu Dalam Catatan Sang Berandal

 


Catatan Sang Berandal - Muhamad Syafiq Yunensa

(Resensi oleh Firman Hardianto)


Kisah seperti apa yang pantas abadi? Cerita seperti apa yang bisa dijadikan karya? Berbincang mengenai kisah dan cerita, sebagian kaum pembaca mungkin akan terbayangkan suatu novel. Novel berisi cerita karangan penulis yang sifatnya fiksi, atau bisa juga suatu kenyataan yang dialami penulis lantas dijadikan fiksi dengan sedikit memolesnya.


Ada satu novel karya seorang mahasiswa UIN Walisongo yang bercerita mengenai perjalanan sekumpulan anak nakal yang suka sekali tawuran. Namun, uniknya tawuran yang dikisahkan bukanlah tawuran tanpa strategi, menyerang asal-asalan dan babak belur tidak karuan. Kisah itu ada dalam novel Catatan Sang Berandal karya Muhamad Syafiq Yunensa.


Catatan Sang Berandal mengisahkan seorang siswa SMP sekaligus santri Pondok bernama Fadli beserta kawan-kawannya selama bersekolah. Fadli bersama Gowil, Aroy, Arlay, Amex dan lainnya tergabung dalam suatu kelompok bernama Komunitas Poetaw 02.


Awal Mula Cerita Dimulai

Catatan Sang Berandal dimulai dengan masa depan Fadli bersama istri dan anak-anaknya yang tengah bersantai menikmati suasana kekeluargaan. Buah hati pertama Fadli dan sang istri, Argata yang telah selesai membaca buku karya Ayahnya sedang dilanda penasaran ingin mendengar kisah masa lalu sang Ayah langsung melalui sumber utamanya. Dari sinilah, Fadli mulai bercerita dan setting berubah menuju masa lalu ketika Fadli masih duduk di bangku SMP.


Sesuai namanya, Poetaw (Poetra Tawuran), komunitas ini tak jarang melakukan tawuran dengan anak sekolah lain karena berbagai masalah yang melatarbelakanginya. Dan dari berbagai tawuran yang dilakoni, Poetaw 02 selalu mendapatkan kemenangan berkat strategi-strategi yang telah disusun dengan baik. Bahkan setelah tawuran, Poetaw 02 juga menyusun strategi bagaimana caranya mereka kembali ke kelas.


Seperti yang dijelaskan penulis, meski anggota Komunitas Poetaw 02 seringkali tawuran, namun dalam hal pelajaran di sekolah mereka selalu bisa mengimbangi. Bahkan beberapa di antaranya tergolong berprestasi.


Kekalahan Pertama dan Terakhir Poetaw 02

Dalam berbagai pertempuran (red: tawuran) yang telah mereka lakoni, tak satupun mereka kalah. Kecuali dalam pertempuran terakhir mereka sebelum saling menempuh jalan masing-masing. Kekalahan ini merupakan suatu kekalahan pertama dan terakhir Komunitas Poetaw 02.


Meski sebagian besar dari mereka merasa bahwa pertempuran berlangsung tak adil dan penuh kecurangan, serta besar keinginan mereka untuk membalas. Tetapi berbeda dengan Fadli, Fadli memikirkan hal lain sehingga tidak sepakat untuk melakukan serangan balasan. Fadli justru menawarkan agar Poetaw 02 dibubarkan. Kenapa dibubarkan?


Fadli tak hanya berpikir mengenai harga diri Poetaw 02. Anggota Poetaw 02 akan saling berpisah setelah ini, Fadli berpikir bahwa ini saat yang tepat untuk mengakhiri segala pertempuran. Fadli mengatakan bahwa Poetaw 02 perlu memikirkan kesulitan yang bisa saja diperoleh adik kelasnya jika mereka membalas serangan ini. Dendam akan terus berlanjut dan pertempuran tidak akan pernah berakhir. Hal itu sangat mengganggu pikiran Fadli. Satu persatu anggota Poetaw 02 mulai menerima pemikiran Fadli. Akhirnya mereka sepakat untuk tidak melakukan serangan balik dan Poetaw 02 berhenti di angkatan mereka saja.


Ada berbagai kisah mulai dari persahabatan, kekeluargaan, anarki, perlawanan, dan cinta yang tersuguhkan di novel tersebut. Kisah ini tentu akan memberikan mindset lain dalam pikiran pembaca mengenai punk, perlawanan, dan jalanan sehingga dapat berpikir lebih global. Untuk mendapatkan kisah lengkapnya tentu anda sangat kami sarankan untuk membaca Catatan Sang Berandal karya Syafiq Yunensa itu. Jika anda tertarik dengan kisah ini bisa segera cek Instagram penjualannya di @digdayabook.


No comments:

Post a Comment