Hakikat Bohong Dalam Kajian Filsafat - Kuresensi.xyz

October 18, 2021

Hakikat Bohong Dalam Kajian Filsafat

 


Bohong di Dunia - Hamka

(Resensi oleh Firman Hardianto)


Manusia adalah makhluk telah dinobatkan sebagai golongan yang selalu memiliki kesalahan dan kekhilafan. Hal ini dijelaskan dalam suatu hadis yang diriwayatkan Ibnu Majjah, Kullu Bani Adama Khatha’un. Wa khairul khaththa’in at-tawwabun. Artinya, Setiap manusia memiliki keasalahan. Orang bersalah yang paling baik adalah orang yang bertaubat.


Bohong merupakan bentuk kekhilafan yang sangat sering dilakukan oleh manusia. Anggapan yang tergambar di dalam masyarakat saat ini adalah bohong sudah membudaya dan sulit untuk dihilangkan. Budaya berbohong ini bisa diterjemahkan sebagai kesalahan yang secara umum dilakukan oleh manusia, meski tetap memungkinkan ada manusia yang tidak pernah berbohong.


Buya Hamka dalam bukunya Bohong Di Dunia menyebut bohong sebagai ungkapan tidak benar yang berkaitan dengan suatu berita. Dalam ilmu balaghah, kata-kata terbagi menjadi berita dan tuntuan. Dari dua pembagian itu, bohong dikategorikan terdapat dalam berita. Bohong tidak bisa terdapat dalam kata-kata tuntutan (menyuruh, melarang, bertanya).


Baca juga: Zaman Zulkarnaen dan Penulisnya yang Misterius


Kaidah Ilmu Jiwa Tentang Bohong

Berbeda dengan pendapat di atas, berdasarkan kaidah ilmu jiwa dalam kata-kata tuntutan pun bisa terdapat kebenaran dan kebohongan. Kebohongan yang terjadi dalam kata-kata tuntutan bisa dilihat dari suatu peribahasa “Sudah gaharu cendana pula?” Sudah tahu bertanya pula. Seseorang yang sudah mengetahui suatu hal, namun ia tetap bertanya mengenai hal itu bisa dikategorikan sebagai bohong dari ketidaktahuannya.


Selain itu, semisal dalam kata-kata tuntutan “Tolonglah saya!” Kalimat ini tentu diucapkan ketika seseorang memerlukan pertolongan. Tetapi tidak semua orang mengatakan hal itu hanya ketika butuh pertolongan, ada kalanya ketika seseorang tidak perlu pertolongan diungkapnya lah kalimat “Tolonglah saya!” sehingga hal ini juga bisa dikategorikan sebagai bentuk kebohongan.


Bukan hanya susunan kata yang diungkapkan mulut, dalam perbuatan manusia pun terdapat kategorisasi benar dan bohong. Perbuatan merupakan hasil azam atau kehendak dari jiwa. Namun, tidak jarang pula seseorang – antara apa yang diungkapkan dengan apa yang diperbuat tidak bersesuaian. Hal ini bisa dikategorikan sebagai bohong dalam perbuatan.


Baca juga: Sihirku Adalah Tidak Pernah Menyerah


Adakah Bohong Yang Diperbolehkan?

Secara umum, bohong adalah suatu perbuatan yang tidak terpuji. Karena tidak terpuji, tentu bohong sebaiknya tidak dilakukan. Meski di masyarakat bohong seakan telah membudaya, namun perlu disampaikan bahwa sebaiknya bohong tetap tidak dilakukan dan terus mereduksi agar berkurang.


Kenapa bohong tidak boleh dilakukan? Bohong atau dusta dianggap sebagai perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Namun, ada pula kebenaran yang ketika diungkapkan bisa saja menyinggung perasaan sehingga perlu dihindari. Kebenaran seperti ini biasanya terjadi ketika seorang dengan penyakit kronis berobat dan dokter mengetahuinya. Tentu alangkah lebih baik jika hal tersebut hanya diungkapkan kepada keluarganya dan yang bersangkutan tidak perlu mengetahuinya. Dokter dapat memberikan alasan lain yang tidak berkaitan dengan penyakit kronis yang diderita pasien. Seperti yang dicontohkan Buya Hamka dalam buku Bohong di Dunia. “Kewajiban saya ialah mengobati, kewajiban anda menuruti nasihat saya. Adapun perkara sembuh, mari kita serahkan kepada Allah.”


Kebohongan juga bisa dipakai oleh polisi sebagai trik untuk membongkar kejahatan. Polisi bisa menggunakan kobohongan untuk memancing pelaku kriminal untuk jujur dan mengungkap apa yang telah ia lakukan. Hal ini juga dikatakan oleh pepatah Inggris, Tell a lie, find the truth, katakan sebuah kebohongan untuk memancing suatu kebenaran.


Itulah sedikit gambaran buku Bohong di Dunia karya Buya Hamka yang menjelaskan mengenai berbagai pandangan tentang filsafat bohong. Adapun jika pembaca ingin mendapatkan kesan yang maksimal, tentu pembaca perlu membaca secara langsung buku karya Buya Hamka ini sebagai bagian dari mendalami ilmu dan belajar secara mendalam. Anda bisa mendapatkan buku ini melalui halaman penerbit Gema Insani. Selamat membaca.


No comments:

Post a Comment